Rabu, 30 Desember 2020

ADHD Dewasa - Sebuah Derita Sebuah Cerita



"Aku kira aku spesial, ternyata aku hanya kelainan mental~" Begitulah  sekelibat dark joke ketika aku mengenal apa itu ADHD. 

Pikiranmu berlari secepat the flash, tapi badanmu bagaikan kura-kura. Kamu sedang mengerjakan sesuatu yang penting tapi tiba-tiba kamu berhenti dan melakukan hal yang sepele. Misalnya saja sekarang, aku sedang mengetik tulisan ini sambil menonton video Bae Suzy menyanyikan lagu Heart Shaker. 


Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan tetapi kamu tidak melakukannya hanya karena kamu sudah merasa melakukannya. Sulit akupun menjelaskannya.

Kurang lebih itu adalah beberapa gejala ADHD dewasa. Tidak seperti ADHD pada anak kecil yang sangat terlihat dengan jelas oleh mata dengan sifat hiperaktif dan impulsif mereka. ADHD pada orang dewasa biasanya menitik beratkan ke alam bawah sadar dan pola pikir yang di luar normal. 


Sudah sejak juni aku full di rumah saja karena pandemi virus yang melanda Indonesia. Awalnya aku bersemangat melakukan segala hal termasuk membangun satu website baru. Tapi beberapa bulan terakhir aku sangat gelisah dengan perasaan yang memuakkan. 

Aku selalu mondar mandir di kamar utama entah ingin berbuat apa. Ingin menulis tapi akhirnya terdistraksi juga. Sekalinya bisa fokus hanya bertahan 10 menit saja habis itu tidur 5 jam, HAHA. 



Bagaimana sih rasanya jadi seorang dewasa yang terkena ADHD? 

Ya bagaimana aku juga bingung. Pertama adalah ADHD Dewasa bisa didiagnosis sendiri, tetapi di sisi lain kita harus pergi ke psikiater untuk didiagnosa agar tidak sembarangan melakukan self-diagnose. 

Sialnya adalah, ADHD pada orang dewasa adalah kondisi mental yang unik dan tidak semua psikiater memahaminya, termasuk psikiater di Indonesia. Sehingga jika kita berkonsultasi ke psikolog atau psikiater, mungkin kita hanya didiagnosis terkena stres dan gangguan kecemasan. 

Namun kenyataannya ADHD memerlukan penanganan lain. Tapi sebagai pakar, tentu mereka tidak salah dan tetap memberikan saran terbaik kepada gejala yang kita rasakan. Akupun juga konsultasi ke beberapa ahli di bidangnya. Akhirnya pada 24 Desember kemarin aku berkonsultasi dengan 1 psikolog dan 1 psikiater.



Pun begitu, sekarang kondisi mentalku masih parah dengan catatan. Pekerjaanku menjadi terbengkalai dan perasaan hati yang sangat moodswing. Memang tidak ada tanda tanda suicidal dan kesedihan yang mendalam. 

Tetapi kehilangan fokus itu sangat menganggu rasanya di saat kita berada di bidang kreatif dan memerlukan ketekunan dalam menyelesaikan proyek. 


Ketika kamu mengidap ADHD, maka konsentrasi yang hilang dari kepalamu bagaikan bensin yang dibiarkan terbuka dan terbakar oleh api, ya secepat itu!!!


Kamu akan memiliki hubungan yang bermasalah jika salah sedikit saja memilih pasangan yang tidak memahamimu sepenuhnya. Dicap sebagai pemalas dan pembual, padahal cara kerja otak kita sudah maksimal sampai ngebul untuk menyelesaikan task yang dibuat. 

Apakah sudah membuat jadwal atau to do list planner? SOEEDAAAH!!!! Tapi justru itu yang nanti akan menjadi sumber stres tambahan bagi kita. SULIT BOEKAAAN? hahaha


Masalah saat menyetir

Orang dengan ADHD cenderung memiliki risiko kecelakan 3 sampai 5 kali lebih besar daripada orang tanpa ADHD. Itu sebabnya saya juga masih takut berkendara dengan kendaran bermotor dan memilih untuk menaiki sepeda ontel kemana-mana. Tidak apa kalau nyawa saya yang hilang akibat kecelakaan, lha kalau orang lainn? :")

 

Walaupun begitu, biasanya seorang pengidap ADHD Dewasa memiliki beberapa kelebihan. Seperti kerja otak lebih cepat, kreatif, dan dapat menemukan solusi di saat keadaan kepepet. 

Beberapa orang hebat juga pasti ada yang menyandang ADHD. Jadi, sebagai seorang dengan ADHD kita tidak boleh berkecil hati. Akupun terus melawan hal ini dan berharap suatu saat dapat menjadi sukses.  Mari berjuang bersama!! ^^

2020.12.30 - Hanif, Anggota Baru Geng ADHD Dewasa
Read More